SAHABATKU, MANTAN TERBAIKKU


Awal semester, kelas baru tapi muka temen-temen yang sama. Sekarang aku naik ke kelas XI. Awal masuk sekolah aku dah denger kasak-kusuk soal anak baru yang super cakep dan katanya sich manis gila. Di kelasku semua cewek ngomongin dia, tapi ntah aku yang nggak ngeh sama berita itu atau emang aku yang nggak suka kepo sama hal-hal yang nggak penting kayak gitu. Enakan juga kumpul sama temen-temen atau cari-cari bahan buat nulis.
            Ooo iya udah cerita panjang lebar kayak gini tapi kalian belum kenal aku. Aku Pita,sekarang di kelas IPS-1. Saat aku dan teman-teman masih asik ngobrol tiba-tiba Pak Kepsek masuk. Dengan kumis tebal yang kayak kumisnya pak Raden dan suara yang bisa menggemparkan kelas beliau berkata bahwa ada anak baru yang bakalan masuk ke kelasku. Katanya dia pindahan dari Bandung. Langsung dech cewek-cewek sekelas heboh ngomongin cowok itu. Nggak lama kemudian cowok itu dipanggil oleh Pak Kepsek dan masuklah dia. Semua mata teertuju ke dia. Tapi aku masih asik nulis di depan laptop.
            Setelah dia memperkenalkan diri Pak Kepsek menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Saat dia duduk disebelahku dia mengajakku berkenalan. Ya, sebagai teman yang baik aku pun menyambut niat baiknya itu. Ternyata namanya itu Adhi Wijaya yang sering dipanggil Adhi.Dari situlah awal kami menjadi teman. Setiap hari kami berangkat dan pulang sekolah bareng-bareng. Di sekolah pun seperti itu. Ke kantin, perpus, ngerjain tugas mesti barengan. Sampai-sampai  kita dikira pacaran. Padahal kita berdua cuman sahabatan. Dia sering curhat segala masalah yang lagi dihadapin. Begitu juga sebaliknya.
            Dengan berjalannya waktu, kita makin deket dan saling ngerasa nyaman satu sama lain. Suatu saat Si Cungkring panggilan ku buat dia cerita tentang masalah keluarganya ke aku. Aku hanya bisa memberi saran-saran yang aku mampu dan ternyata saran itu cukup membantu untuk masalahnya. Semakin hari aku ma Si Cungkring makin kelihatan seperti sepasang kekasih yang so romantic.
            Setiap hari kita digosipin dengan masalah ini itu tapi kita cuek. Karna emang dasarnya kita berdua cuek sama gosip-gosip dan berita yang nggak mutu. Saat aku nempelin cerpen di mading sekolah aku liat pengumuman lomba nulis buku tentang kehidupan sosial. Awalnya aku takut untuk ikut lomba itu. Aku nggak tau harus ikut atau nggak. Kalau aku ikut aku takut nggak akan bisa nyelesaiin bukuk itu tapi itu adalah salah satu mimpiku untuk jadi seorang penulis yang handal. Dengan wajah yang murung aku kembali ke kelas. Tiba-tiba Si Cungkring nanyain aku kenapa mukaku lecek dan kelipet-lipet kayak baju yang nggak disetrika. Dan saat itu juga aku menceritakan kegalauanku ke Cungkring. Kalau cewek curhat pasti nangis termasuk aku juga dan Cungkring pun memeluk aku terus memberikan banyak nasehat yang membuat aku menjadi yakin untuk mengikuti lomba itu.
            Deadline lomba itu hanya satu bulan. Cungkring membantu aku untuk membuat eksperimen yang bakalan aku jadiin buku. Tiap pulang sekolah mesti aku ma Cungkring cari-cari bahan buat nulis. Cungkring semangat banget bantuin nulis. Bahkan sampai-sampai dia selalu pulang malem hanya demi nemenin aku. Deadline bukuku tinggal satu minggu. Aku jadi makin bingung karna bukuku belum jadi juga. Cungkring terus aja nyemangati aku. Tiap hari aku ngelembur untuk nulis buku. Cungkring pun ikut nglembur bantuin aku. Saat aku sibuk nulis dia ketiduran di belakangku. Saat itu aku liat wajahnya, tapi tiba-tiba ada yang berdebar kenceng banget. Ternyata itu debaran jantungku. Nggak tau kenapa ini bisa terjadi. Padahal dia kan sahabatku, masak sih aku suka sama dia. Itu nggak mungkin, aku nggak mau persahabatan ini ternodai dengan perasaanku ini. Kupandangi terus dia yang lagi nyenyak tidur di sofa hingga aku nggak sadar kalau Cungkring udah bangun , eh malah dia yang ngagetin aku. Dan sontak aku jadi gugup. Tapi tetep harus aku ssembunyiin apa yang sejak tadi aku pikirin. Dia ngegodaiin aku terus gara-gara aku nggak sengaja tadi ngeliatin dia terus waktu dia tidur. Walau gerogi tapi aku harus tetep bisa santai kayak di pantai biar dia nggak curiga. Karna udah malem Cungkring aku suruh pulang aja. Kan kasian seharian dah nemenin aku untuk nyelesaiin bukuku. Toh bukuku akhirnya jadi saat H-2.
            Tanpa pikir lama keesokan harinya aku ma cungkring mengirimkan buku itu ke panitia lomba. Sudah seminggu ini bukuku aku serahkan ke panitia, tapi belum juga ada pengumuman pemenangnya. Keresahan itu juga makin menjadi-jadi saat Cungkring tiba-tiba harus keluar kota untuk beberapa hari karna harus mengikuti lomba basket. Hari-hari kumakin kelam karna dua hal itu. Tak ada sahabat yang bisa ngehibur aku. Rasa kangen pun timbul dan tanpa kusadari semakin menggerogoti perasaan ini. Rasa kehilangan membuat aku seperti orang linglung. Di sekolah hanya melamun. Padahal Cungkring baru 2 hari ninggalin aku.
            Ditempat berbeda ternyata Cungkring juga sedang mikirin Pita. Dia pun merasakan apa yang dirasakan oleh Pita. Tapi sayangnya ia tak dapat menghubungi Pita karna ia dituntut oleh pelatihnya untuk fokus lomba dan dilarang membawa alajt komunikasi. Rasa kangen semakin menyiksa Cungkring dan Pita. Hari demi hari dilalui dengan terasabegitu lambat. Hari keempat Cungkring mencuri waktu untuk pergi ke warnet. Ia mencari info tentang lomba menulis buku yang diikuti oleh Pita. Ternyata Pita menjadi pemenangnya. Namun pihak panitia belum menyampaikan hal terssebut ke Pita. Cungkring pun punya inisiatif untuk menyembunyikan hal ini karna ia ingin memberikan kejutan ke Pita saat ia datang nanti. Semuanya udah dipersiapin oleh Cungkring. Setiap malam Cungkring memikirkan Pita. Yang ada di pikirannya hanya Pita. Dan yang terlintas hanyalah wajah pita dan juga kenangan indah bersama Pita.
            Akhinya Cungkring memutuskan untuk menyatakan perasaannya ke Pita saat ia pulang dari lomba nanti dan mengatakan bahwa Pita menjadi pemenang lomba menulis buku. Cungkring sudah tak sabar ingin pulang. Ia makin terpacu semangatnya dalam mengikuti lomba basket dan akhirnya ia juga menjadi juara. Hari yang ditunggu Cungkring pun datang. Ia kembali ke sekolah dan langsung mencari Pita. Ia berlari ke kelas, tapi sayangnya ia tak menemukan Pita di kelas. Cungkring sudah mengelilingi sekolahnya tapi belum juga nemuin si Pita. Hampir putus asa Adhi mencari Pita tapi ia ingat disaat Pita sedang galau dan gundah pasti dia ada di taman samping sekolah tempat dimana mereka sering menghabiskan waktu bersama.
            Dilihatnya Pita duduk di pinggir kolam ikan sedang duduk termenung. Dari belakang Adhi mengagetkan Pita. Dengan spontan Pita memeluk Adhi karna ia begitu senangnya sahabatnya telah kembali. Akhirnya kamu kembali juga, aku dah kangen ma kamu itu yang dikatakan Pita ke Adhi. Adhi pun mengatakan hal yang sama. Lalu adhi memberitahukan ke Pita kalau dia memenangkan pertandingan basket. Pita pun senang mendengarnya, namun seketika wajahnya menjadi murung. Adhi menanyakan kenapa tiba-tiba ia murung dan Pita menjawab kalau dia masih resah menunggu pengumuman itu. Tiba-tiba Adhi memberikan stopmap ke Pita yang berisikan pemberitahuan kalau Pita menjadi juara satu dalam lomba menulis buku dan bukunya akan segera diterbitkan. Pita penasaran dengan isi stopmap itu dan kemudian segera dibuka stopmap itu. Saat dibaca ia nggak percaya kalau dia yang menang. Dia pikir Cungkring hanya mengada-ada. Tapi Adhi menjelaskan ke Pita dan Pita pun kegirangan hingga lompat-lompat dan tanpa ia sadar ia memeluk Adhi. Adhi pun juga ikut senang atas kemenangan mereka.
            Tiba-tiba Adhi memegang tangan Pita dan menatap matanya penuh dengan rasa sayang dan cinta. Pita pun langsung takut jika perasaan yang selama ini dia rasakan makin tak terbendung dan ia pun mengalihkan pandangan matanya yang saling bertatapan dengan mata Adhi. Tapi Adhi tetap berusaha agar Pita mau menatap matanya dan ia pun menyampaikan apa yang dirasakannya ke Pita selama ini. Aku merasa terkejut sekaligus senang, tapi aku tak dapat menerima cintanya walau aku juga merasakan hal yang sama seperti Adhi. Adhi menanyakan alasannya padaku dan akhirnya aku menjelaskan apabila aku takut jika persahabatan ini ternodai dengan perasaan yang kita miliki. Namun Adhi tetap meyakinkan Pita kalau dia benar-benar menyayangi dan mencintai Pita dengan sepenuh hati. Ia pun berjanji tak kan menyakiti  Pita dan mengajak Pita untuk mulai belajar untuk menjalaninya. Akhirnya Pita pun mempercayai apa yang dikatakan Adhi dan mereka pun jadian beneran tak hanya gosip seperti yang selama ini beredar di sekolah.
            Kami menjadi pasangan yang sangatlah ideal. Sampai-sampai semua pasangan di sekolah iri dengan kita yang sangat mesra. Hari-hari yang kita lalui berdua selalu mengesankan dan sangat indah. Hingga satu sekolah menobatkan kami sebagai Raja dan Ratu sekolah. Menurut kita sebutan itu agak alay sih, tapi kita tetep seneng aja lah itung-itung ngehormatin mereka yang udah ngasih julukan itu ke kita. Sebulan pertama kita jadian kita masih seperti yang dulu penuh dengan kegokilan yang selalu saja kita ciptakan, pengertian dan kepercayaan masing-masing yang amat sangat the best. Ya kalau dimasukkan ke dalam persen masih 100% lah cinta kita.
            Bulan kedua kami makin lengket. Kalau jaman dulu dibilang kayak amplop dan perangko. Dimana ada aku disitu pasti ada Pita. Dia penyemangat dalam menjalani hari-hariku. Sedih, senang, kita lalui bersama. Hingga saat ujian kenaikan kelas diadakan kita kompak dalam mendapatkan peringkat ranking. Bukannya sombong tapi emang kita termasuk anak yang lumayan di kelas. Aku ranking pertama dan Pita ranking kedua. Dan untungnya kita satu kelas lagi waktu naik ke kelas XII. Emang kalau jodoh nggak kemana. Aku udah yakin banget kalau Pita adalah belahan jiwaku yang selama ini aku nantikan. Dan aku nggak akan pernah ninggalin ataupun nyakitin dia. Kalauu ditanya siapa waita yang paling aku sayang dan cintai udah pasti jawabanku yang pertama ibu yang udah ngelahirin aku dan yang kedua ya jelas Pita. Mereka berdua yang berarti dalam hidupku.
            Kisah kasih ini berjalan dengan sangat mulus dan lancar seperti jalan tol. Ini mengingatkanku akan pepatah jawa yang mengatakan “tresno jalaran saka kulino” yang berarti cinta tumbuh karna terbiasa. Yaps aku ma Adhi emang udah deket semenjak awal dia masuk ke sekolah ini. Dari temen jadi sahabat dan sekarang jadi kekasih pujaan hati. Tapi walau kita pacaran tapi tetep kalau soal pelajaran kita saingan ketat. Dan hasilnya nilai-nilai kita nggak pernah jauh rentannya. Dia bener-bener pacar dan juga saingan yang sangatlah istimewa.
            Hingga suatu saat ada satu masalah yang membuat Adhi merasa berada dititik yang paling jenuh. Ya,ini masalah tentang kakak yang paling deket dengan dia mengalami masalah yang cukup rumit. Ternyata masalah ini juga berimbas pada hubungan yang sedang kita jalani. Sekarang Adhi menjadi lebih pendiam, tertutup dan sulit untuk ditebak apa maunya. Tapi aku nggak akan pantang menyerah, dari dulu kita sudah sering menjalani masalah bersama. Jadi, sekarang pun aku akan selalu ada disampingnya untuk membantunya. Walau denngan susah payah aku menghibur Adhi, akhirnya dia mau menceritakan apa yang sedang dialaminya sekarang. Aku tak lantas begitu saja memberikan saran, tapi aku coba untuk pelan-pelan menenangkan hatinya terlebih dahulu. Agar nantinya ia dapat berfikir dengan jernih sehingga ia dapat menentukan jalan yang terbaik untuk pemecahan masalahnya.
            Betapa beruntungnya aku mempunyai pacar seperti Pita. Karna disaat seperti ini ia pun masih tetap bertahan disampingku dengan segala masalah yang kuhadapi. Aku sangat salut padanya. Hanya dia yang bisa melegakan hati dan pikiranku sehingga aku dapat merasa tenang. Walau masalah ini cukup menyita banyak waktuku sehingga tak ada waktu lagi untuk bersama Pita, tapi ia tetap sabar menanti aku. Dan dengan perhatian, pengertian ssserta kesabarannya menungguku akhirnya aku mampu melalui ini semua berkat dukungan dari Pita. Karna aku merasa sangat bersalah telah membuat Pita ikut merasa sedih aku pun mengajaknya untuk dinner dengan suasana yang cukup romantis demi menebus kesalahannku selama ini ke dia dan akan kubuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan olehnya.
            Betapa senangnya hatiku karna Adhi telah kembaliseperti yang dulu lagi. Dan malam ini dia bakalan ngajak aku makan malam di cafe yang selama inni terkenal dengan suasananya yang sangat romantis. Haduch...aku jadi bingung sendiri harus memakai baju yang mana. Semua baju dan gaun yang ada di lemari pun aku keluarkan semua dan ku coba satu per satu. Untuk mencoba baju-baju dan menentukan mana yang akan kupakai saja butuh waktu satu jam lebih itu ssaking rempongnya aku. Tapi walau lama akhirnya aku menemukan gaun yang menurutku cocok untuk malam yang spesial ini. Yupz gaun putih panjang dengan ada bunga disebelah dada kanan. Gaun yang dulu pernah diberikan oleh Adhi saat aku ulang tahun. Ok masalah baju kelar. Tapi biar Adhi nggak kecewa aku harus berdandan seperti apa? Hhhmmmm inilah cewek yang selalu lama dalam menyiapkan kencan spesialnya yang sangat istimewa. Ok dengan rambut yang aku curly dan make up yang natural aku siap untuk makan malam dengan Adhi. Tak lama setelah berdandan aku mendengar suara mobil Adhi di depan rumah. Ternyata benar itu adalah Adhi. Segera aku keluar dari kamar dan menemuinya. Aku sangat tak menyangka ternyata malam ini dia juga terlihat sangat keren sekali melebihi biasanya. Dengan hem yang dipadu dengan jas dan juga celana jins membuatnya terlihat lebih gagah. Begitu sampai di tempat yang sudah dipesan dan dirancang sedemikian rupa oleh Adhi, dia memberikan bunga yang sangat aku sukai yaitu mawar putih. Kemudian kami berjalan di red carpet serasa pasangan selebriti hollywood menuju meja pesanan Adhi. Semua bernuansa putih dan penuh dengan aneka mawar yang indah dan harum serta iringan lagu yang sangat menuentuh hingga menambah keromantisan malam ini.
            Setelah malam ini terlalui aku ngerasa seneng buanget. Sampai-sampai aku nggak bisa tidur karna kebayang suasana romantis tadi. Dan saat aku sedang asik membayangkan suasana saat makan malam tadi di kamar HP q tiba-tiba bergetar. Ternyata Adhi SMS aku dan isinya bikin aku melayang ke udara bareng paus akrobatik dan meluncur dari gundukan salju yang tinggi. Hhmmm rasanya hari ini istimewa (ala-ala girlband) dan tak terlupakan.
            Oke, pagi ini Adhi bakalan jemput aku seperti biasa. Tapi ternyata dia datang lebih awal. Padahal seharusnya hari ini kita masuk agak siangan. Jadinya dia harus rela nunggu aku beberapa menit aja sich. Ku kira kita akan langsung ke sekolah nggak taunya malah diajak jalan-jalan dulu. Dia ngajak aku ke tempat yang cuman kita berdua aja yang tau. Sambil nungguin jam masuk sekolah kita main-main dulu di tempat itu. Setelah kita puas main di taman itu kita segera menuju ke sekolah. Nggak taunya kita malah terlambat. Ya udah ketemu dech sama monster di sekolah kita. Kita dihukum harus berdiri di tengah lapangan sambil hormat ke bendera sampai istirahat pertama. Panas sih, tapi karna kita emang pasangan yang suka jail, jadi kita bawa santai aja. Kegokilan-kegokilan yang kita lakuin pas dihukum malah menambah hukuman yang kita dapat dari monster sekolah. Kita ditambahi hukuman untuk mengepel semua kelas yang ada di sekolah sepulang sekolah. Oke kita nggak pikirin masalah hukumannya. Anggep aja ini waktu tambahan buat berduaan, jadi seru kan.
            Keesokan paginya seperti biasa aku dijemput sama Adhi. Tapi kali ini kita nggak mau kena hukuman lagi. Walaupun asik jadi waktu tambahan buat pacaran, tapi lumayan capek juga jadi babu sehari si monster sekolah. Kurang 2 menit aja kita bisa terlambat, untungnya gerbang sekolah masih terbuka dan si monster nggak ada di depan gerbang. Akibat kita udah kelas XII sekarang kita jadi harus lebih fokus kepelajaran. Kan kita nggak mau image pasangan terbaik kita harus rusakakibat nilai kita. Moto kita kan pacaran oke belajar lanjut. Jadi untuk satu bulan ini kita memutuskan lebih fokus kepelajaran untuk menghadapi ujian nasional. Cara pacaran kita, kita ubah menjadi belajar bareng yang bisa saling menguntungkan kita. Yang tadinya pacarannya ke bioskop, cafe, jala-jalan, sekarang kita ubah menjadi ke perpus, toko buku, belajar bareng.
            Sampai-sampai kita buat target kalau kita berdua harus menjadi peringkat satu dan dua dalam hasil ujian nanti. Saat yang mendebarkan pun datang. Ya, hari ini ujian nasional dimulai. Dengan serius kita ngerjain semua soal yang ada di hadapan dengan sangat yakin. Empat hari udah kita lalui. Kita tinggal nunggu hasil perjuangan kita selama tiga tahun ini. Semua anak kelas XII deg-degan. Saat lewat didepan mading aku ngebaca kalau bakal diadain perpisahan untuk anak kelas XII saat pengumuman kelulusan nanti. Dari acara-acara yang disebutin sih kayaknya ini bakalan jadi perpisahan yang paling keren. Apalagi ada penampilan dari band yang masih dirahasiakan. Makin bikin penasaran aja. Seharian ini aku nyari si Adhi tapi nggak ketemu-ketemu. Padahal aku dah puter-puter sekolah cuman buat nyariin dia. Tetep aja aku nggak nemuin dia. Apa dia ge sembunyi di lubang tikus ya? Kok aku nggak bisa menuin dia. Huh, hari ini bikin bad mood aja. Ya udah, mungkin aja ntar lo pulang dia nemuin aku. Ternyata dia nggak nemuin aku juga. Aku dibiarin pulang sendirian. Sebel banget deh sama dia. Awas aja kalo dia ngehubungi aku, aku nggak bakalan ngebales. Pokoknya aku ngambek tingkat dewa ama si Adhi.
            Kengambekanku pun makin memuncak karna dia sehari ini nggak ngehubungi, nggak ngasih kabar atau cuman sekedar say hello aja nggak. Aku mulai punya kecurigaan ke dia. Apa rasa sayang dia udah luntur ke aku dan dia udah jenuh ma aku. Kecemburuan pun membakar hatiku. Kecemasan melanda diriku. Aku jadi anak yang ababil lagi. Galau, bingung, sakit hati, sebel, pokoknya semua jadi satu. Di sekolah jadi uring-uringan sendiri, udah seminggu ini Adhi nggak jemput dan anter aku pulang sekolah. Aduh aku makin galau lagi karna malam perpisahan udah deket tapi Adhi malah ngehilang ntah kemana, dan nggak ngajak aku untuk dateng ke acara itu. Facebook dah aku kirim pesan terus, twitter udah ku mention nggak dibales, aduh ay kau buat aku galau tingkat dewa.
            H-2 malam perpisahan aku dikejutkan dengan amplop biru yang ada di mejaku. Aku pun jadi penasaran apa isi surat itu. Aku buka pelan-pelan isi amplop itu. Ternyata isinya itu ngajak aku untuk dateng ke acara perpisahan itu. Aku pikir ini dari Adhi, nggak taunya ini dari temenku yang lain yang nggak tau siapa namanya soalnya dia pakek inisial R. Sedangkan nama Adhi kan nggak ada inisial R nya.
            Hari H pun telah tiba. Aku nggak pengen banget berangkat, tapi hariini kan juga ada pengumuman kelulusan. Aku jadi bingung sendiri. Ditambah si Adhi masih belumada kabar sedikit pun. Makin hilang harapan dan semangatku.tapi tiba-tiba HP q berdering dan ternyata itu temen cewek satu kelasku yang ngajakin berangkat bareng. Karna aku ngerasa nggak enak dah dijemput akhirnya dengan wajah yang super duper murung aku berangkat ke acara itu. Keadaan disana amat sangat ramai tapi perasaanku tetap sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, itu berarti bentar lagi bakal ada pengumuman kelulusan. Aku hanya bisa menangis di sudut ruangan tanpa bisa menikmati kegiatan yang ada malam ini. Meratapi apa yang terjadi padaku. Ini amat sangat  menyiksaku karna Adhi yang selama ini ada untuk aku, seminggu ini tak ada kabar tentang dia.
            Saat band yang dirahasiakan selama ini naik panggung semua berteriak dengan sangat kencang. Si vokalis mulai menyapa para penonton. Rasa-rasanya aku kenal dengan suara ini. Tapi sepertinya tak mungkin perkiraanku ini benar. Segera aku menuju ke dekat panggung karna aku udah penasaran banget. Dan ternyata perkiraanku bener banget. Itu suara Adhi. Dan itu sangat membuat aku terkejut. Ia mengatakan bahwa ia akan menyanyikan lagu untuk orang yang paling spesial untuk dia. Ternyata orang yang dimaksud itu adalah aku. Dan dia meminta maaf karna selama seminggu ini menghilang secara tiba-tiba tanpa ada kabar sedikitpun. Ini semua dilakukannya hanya demi ngasih aku kejutan di malam perpisahan sekolahku ini. Hhuuuhh.....nggak bisa terbayangkan gimana bahagianya aku malam itu. Apa yang kupikirkan selama Adhi menghilang ternyata salah besar. Aku jadi tersanjung dan terharu melihat usaha yang dilakukan Adhi demi memberikan persembahan yang tak terlupakan untukku di malam ini.
            Sebuket bunga mawar diberikan Adhi ke aku. Seperti biasa dia selalu pandai membuat suasana menjadi romantis dan paling bisa bikin aku jadi meleleh. Awalnya aku agak sok nggak mau maafin dia. Tapi lama-kelamaan aku kasihan ngeliat dia minta maaf ke aku. Ya udah aku maafin aja, toh aku emang nggak bisa marah ma dia. Setelah penampilan dari bandnya si ayang Cungkring pak Kepsek naik ke panggung untuk mengumumkan kelulusan. Tanganku ma tangannya Adhi berpegangan erat banget dan tangan kita sama-sama dingin banget karnakita sama-sama tegang. Tahu sendiri kan kita udah kerja keras untuk berjuang menjadi peringkat satu dan dua sesekolah. Pak Kepsek mulai membuka amplop yang berisi tentang pengumuman peringkat. Dan ternyata, yang menjadi peringkat satu dan dua itu aku ma Adhi. Sontak kita berpelukan saling senengnya akhirnya impian kita tercapai. Ini benar-benar seperti mimpi.
            Setelah malam perpisaha dan pengumuman kelulusan kita memutuskan untuk masuk Universitas yang sama. Aku ambil jurusan akuntansi dan Adhi ambil jurusan elektro. Walau beda jurusan tapi untungnya jadwal kita nggak jauh beda. Jadi tetep bisa barengan terus dech. Nggak beda saat kita masih pakek seragam putih abu-abu, kisah kasih kita juga terkenal di kampus ini. Padahal kita masih mahasiswa baru semester satu pula.
            Awal perkuliahan hubungan kita masih baik-baik saja hingga saat memasuki semester dua pun kita masih baik-baik saja. Karna hari ini aku ada kuliah pagi, jadi hari ini aku cuman dianter sampai depan kampus aja. Waktu jeda aku gunain buat nulis di taman mumpung ada inspirasi yang muncul. Asiknya nulis membuat aku nggak ngehirauin keadaan di sekitar ku. Mau rame, sepi pokoknnya aku tetep aja nulis. Gitulah kalau aku ge autis di depan laptop sambil nulis.
            Adhi dari belakang ngagetin aku denagn nutup mata aku. Sebel sih karna tiba-tiba ngageti aku, tapi sebelnya cuman satu detik aja. Sebelum kita masuk kelas masing-masing, kita ngobrol-ngobrol di taman dulu buat ngehabisin waktu berdua mumpung lagi ada waktu. Lagi enak-enakan ngobrol tiba-tiba diganggu oleh teman-teman Adhi. Mereka ngajakin Adhi buat latihan basket. Huh mereka itu nyebelin banget, nggak tau pa kalau aku lagi bentar asik ngobrol sama Adhi. Tega-teganya mereka misahin kita. Tapi, untungnya Adhi ngajak aku buat ikut ngeliat dia latiahn basket. Mumpung aku lagi nggak ada kelas ya udah aku ikut aja ma dia sekalian ngasih semangat ke dia biar dia makin keren main basketnya. Setelah dia latihan aku nyamperin dia sambil bawa air minum dan handuk kecil buat ngelapin keringatnya. Langsung dech temen-temennya jadi pada nyorakin. Tapi nggak papa namanya juga perhatian ma pacar jadi wajar aja lah.
            Hari ini Adhi nggak bisa jemput aku buat ke kampus. Katanya ada urusan di rumah, jadinya aku harus naik taksi sendiri. Setelah sampai di kampus aku langsung ke kelas soalnya hari ini aku ada ujian dan abis ujian aku harus langsung ke penerbit. Tadinya Adhi bilang kalau dia bisa nganterin aku ke penerbit. Tapi tiba-tiba dia telefon aku dan bilang kalau urusannya belum selesai, jadi mungkin sehari ini kita nggak bisa ketemu dulu. Akhirnya untuk hari ini aku harus pergi sendirian ke penerbit. Ternyata ada yang beda saat harus ngerjain sesuatu tanpa ditemenin si Adhi. Walaupun begitu aku tetep santai aja karna aku kan udah tahu alasan kenapa Adhi nggak bisa nemenin aku untuk hari ini.
            Malem-malem aku diteleofon sama Adhi. Dia ngajakin akuketemu di taman kampus yang biasanya kita buat untuk ketemu. Namun kali ini suara Adhi serius dan terdengar sangat sedih juga bimbang. Aku takut untuk bertanya, aku hanya meniyakan apa yang ia minta. Rasa penasaran pun timbul dalam benakku dan nggak tau kenapa perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Aku kepikiran dengan suara Adhi yang tadi. Apakah ada hal buruk yang terjadi padanya. Ini tak seperti biasanya dia telfon denag nada dan suara seperti itu. Aku terus kepikiran hingga aku tak bisa tidur malam ini. Setiap kupejamkan mata ini aku teringat akan suaranya dan sontak aku terbangun. Semakin larut malam perasaanku semakin berkecamuk. Semakin tak tentu yang kurasakan. Ingin rasanya aku segera bertemu dengan Adhi dan mengetahui apa yang terjadi padanya saat ini.
            Pagi ini aku tergesa-gesa menuju ke kampus karna rasa penasaranku sangat tinggi. Aku langsung menuju ke taman setelah sampai di kampus. Aku sengaja datang awal karna aku tak ingin Adhi yang menungguku. Setengah jam sudah aku nungguin Adhi di taman ini. Akhirnya dia datang juga. Seperti dugaanku dia datang dengan wajah yang sanagta tak biasa. Dia terlihat sangat banyak beban.
            Sebenarnya aku tak kuasa untuk menyampaikan hal ini ke Pita. Aku hanya bisa memeluknya dengan erat dan menangis. Walau aku seorang cowok aku tak sanggup untuk mengatakan hal ini. Pita terlihat sangat bingung tapi aku masih belum mampu untuk mengatakan masalah yang akan membuat ia sangat kecewa padaku.tapi aku tak bisa menyembunyikan hal ini. Cepat atau lambat dia harus segera tau tentang hal ini. Dan akhirnya Pita menyuruhku untuk menenangkan diri dan menceritakan apa yang sedang terjadi padaku. Aku tak tega melihat Pita kebingungan atas sikapku. Aku pun menceritakan ke Pita bahwa aku harus keluar dari universitas ini sehingga aku harus sekolah ke Itali dan harus tinggal sana. Dia sangat syok dengan apa yang aku katakan. Dan ketakutanku pun terjadi. Pita menangis sejadi-jadinya. Aku tak kuat melihat air mata yang mengalir keluar dari mata yang indah itu. Aku hanya bisa memeluk dan terus mengatakan maaf ke Pita. Pita menanyakan apa alasanku harus sekolah dan tinggal di Itali. Aku melakukan ini pun terpaksa karna orang tuaku menuntutku untuk sekolah disana dan kita sekeluarga bakal pindah ke Itali. Ini dilakukan ayahku karna di Itali bisnis ayahku sangat maju keras. Aku dipaksa dan nggak dikasih pilihan oleh orang tuaku. Mereka juga memyuruhku memutuskan Pita dan menyuruhku untuk fokus ke kuliah dahulu.
            Pita tak kuat mendengar penjelasan dari Adhi dan ia pun lari pergi dari Adhi. Adhi mencoba mengejarnya, tapi Pita tak menghiraukan itu. Ia tetap lari dengan air mata yang tetap mengalir kelua dengan sangat derasnya. Kenapa ini harus terjadi saat aku merasa aku sudah yakin  dan bener-bener sayang ke Adhi. Aku nggak bisa jauh dari dia. Aku nggak mau ini semua berakhir. Kenapa orang tuanya melarang hubungan kita setelah selama ini kita bersama menjalani hari-hari yang tak mudah ini. Semua sms dan telefon dari Adhi tidak ada yang aku jawab. Hatiku masih sangat sakit dan hancur. Aku tahu Adhi pun merasakan apa yang aku rasakan. Tapi aku masih tak sanggup untuk ketemu dan jugamendengar suaranya. Tiada hari tanpa menangis.
            Sudah 3 hari Pita nggak masuk kuliah. Saat aku kerumahnya juga dia nggak mau keluar. Aku denger dari bundanya katanya dia sudah 3 hari juga nggak mau keluar kamar. Sampai-sampai dia nggak makan juga. Aku ssemakin khawatir dengan kedaan Pita. Aku mencoba untuk ngomong lagi ke Pita. Ku ketuk pintu kamarnya. Aku menjelaskan banyak hal ke dia. Aku juga mgomong kalau semua aku keputusan aku serahkan ke dia. Aku junga ngasih tau dia kalau lusa aku harus berangkat ke Itali. Aku ke bandara pukul 3 sore. Aku harap dia mau menemuiku. Aku sangat menyayangi dan mencintai Pita. Aku iingin semua yang terbaik untuk dia. Ini adalah hal yang paling tersulit untuk aku. Disatu sisi aku tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan orang tua ku karna mereka mengancamku akan menyakiti Pita kalau aku nggak menuruti permintaan mereka. Dan disisi lain aku sangat menyayangi dan mencintai Pita. Aku sangat membutuhkan Pita baik dalam keadaan suka dan duka. Aku nggak bisa jauh dari Pita. Aku ngerasa begitu nyaman berada disamping Pita. Aku juga merasa kalau Pita adalah pilihan terakhirku dan dialah jodohku. Setelah aku ngomong banyak dari luar pintu kamar Pita aku kembali pulang karna aku tak ingin orang tuaku menyakiti Pita.
            Sore ini aku bakalan ninggalin Indonesia. Tapi hingga sekarang Pita pun belum memberi kabar padaku. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Aku segera menuju ke bandara. Aku tetap menunggu kedatangan Pita ke bandara. Walau lama aku tetap menunggunya. aku harus segera menuju ke pesawat karna sebentar sudah saatnya aku pergi. Baru beberapa langkah ada suara cewek yang sangat sangat berharga untukku memanggil namaku. Ternyata benar, akhirnya Pita datang menemuiku.
            Aku tau ini adalah pilihan yang sulit untuk aku Dhi, aku nggak tahu harus berbuat apa. Aku hanya ingin kamu sukses dan bahagia walau aku harus menderita.aku rela menderita buat kamu Dhi. Jadi aku putusin untuk mengikuti permintaan orang tuamu walau ini berat untuk kita. Sudah bertahun-tahun kita bersama, banyak hal yangsudah kita lalui. Senang, sedih kitaselalu bersama. Tapi, mulai detik ini lebih baik kamu lupain aku dan jalanilah hidupmu dengan lebih baik. Sebenarnya aku amat sangat berat mengaatkan ini ke Adhi tapi di depan Adhi aku tetap tersenyum.
            Adhi nggak terima dengan keputusan Pita. Dia nggak mau putus dari Pita. Ia berjanji bakalan pulang untuk Pita. Tapi dengan hati yang mencoba tegar di depan Adhi, Pita tetap meminta Adhi untuk rela melepaskan Pita. Saat Adhi mencoba untuk meyakinkan Pita orang tuanya sudah memaksa Adhi untuk segera menuju pesawat dan dengan berat hati Pita melepas Adhi dan Adhi melepas Pita.
            Hari-hari tanpa Adhi kulalui dengan amat berat tapi mungkin inilah yang terbaik bagi kami. Kalau memang jodoh kami akan kembali lagi seperti dulu. Dan Adhi lah sahabat yang menjadi mantan terbaikku.

Related Posts:

0 Response to "SAHABATKU, MANTAN TERBAIKKU"

Posting Komentar